Lintasan Bunda
Lilypie Baby Ticker

January 23, 2006

2.1 Memahami mereka

Bab II Prinsip-prinsip Dasar Tarbiyah berdasarkan Al Quran dan As Sunnah

MEMAHAMI ANAK KITA
Untuk mengetahui bagaimana memotivasi anak dengan cara yang tepat guna dan kooperatif, kita harus memiliki beberapa pemahaman terkait mekanisme psikologis yang terlibat.

Segala aksi menusia digerakkan oleh tujuan-disadari atau tidak oleh ybs-, terjadi pada orang dewasa maupun anak-anak. Sebagai orang tua, memahami tujuan tersembunyi akan membantu anak-anak mengubah sikap mereka dengan mengubah motivasi. Seorang anak umumnya memiliki motivasi utama yang mengendalikan sikap mereka yaitu the need to belong and the need to gain attention.

Ia akan merasa aman bila merasa mendapatkan tempat dalam kelompok, baik itu keluarga maupun lingkungan sekolah. Ia akan mengulang aksi yang mengundang perhatian dan meninggalkan aksi yang membuatnya tertinggal.

Salah satu yang membuat mereka merasa menjadi bagian dari lingkungan adalah dengan membiarkan mereka ikut terlibat dalam aktivitas bersama kawan-kawan (bermain atau OR misalnya). Apalagi bila anak bisa bermain dengan baik, ia akan merasa lebih nyaman. Cara lain adalah dengan memberinya kesempatan menonton pertandingan olah raga atau pentas/pameran tertentu agar ia memiliki sesuatu untuk diobrolkan dengan teman-temannya.

Sebagai tambahan, mereka juga senang diperhatikan, apakah itu karena aksi negatif atau pun positif. Jika mereka bermain baik tapi diabaikan, bisa jadi mereka akan mencari perhatian dengan berkelahi agar diperhatikan.

Anak-anak adalah pengamat yang sangat jeli, tapi mereka seringkali membuat kesalahan dalam menginterpretasikan apa yang mereka lihat. Misalnya saat melihat perhatian yang terpusat pada adik baru, menghadapi kesulitan (cacat, dll), dll.

Faktor kunci yang dapat mempengaruhi kepribadian anak antara lain: suasana dalam keluarga, posisi di keluarga dan metode training.

Suasana dalam Keluarga
**punggungnya mulai kruwil kruwil**
bersambung dulu…

1.4 Gaya dan prinsip

Parenting Style

Para ahli, menggolongkan cara orang tua mendidik anaknya dengan 4 gaya, yaitu: Permissive, Free reigning, Authorian, dan Controlling. Tentu saja gaya-gaya ini punya kekuatan dan kelemahan masing-masing. Yang paling ideal sih gaya ke-5 (gubraks) yaitu nurturing and setting limits.

Lihat bagaimana gaya mereka dalam menghadapi anak-anak yang:
- ingin tidur agak larut karena ingin nonton TV dengan acara kesukaannya
- terlambat makan malam

Ayah yang permisif:
Cenderung bermasalah dalam menetapkan batasan-batasan **strong nurturer-weak limit setter**
Contoh komentar:
- Oke, kamu boleh tidur telat. ayah tahu kamu suka sekali acara ini
- Kamu ga dengar panggilan ayah untuk makan malam? Ok, sekarang duduk, ayah hangatkan makanan dulu supaya kamu ga makan makanan dingin

Ibu yang free reigning
**weak in nurturing-in limit setter
Contoh komentar:
- Kamu kerjakan sendiri, ibu sibuk

Ayah yang otoriter
Seringkali gagal mendengarkan anaknya atau menghargai ide/pendapatnya
**weak nurturer-strong limit setter**
Contoh komentar:
- Ini waktunya tidur, ga ada alasan, Fatima
- Kamu terlambat untuk makan malam, jadi kamu tak makan malam malam ini.

Ibu yang pengontrol
**strong nurturer-too many limits setter**
Contoh Komentar:
- Ali, mama ingin kamu pakai baju ini ke masjid

Seimbang antara nurturing-setting limits
Ingat QS 2:143 tentang umatan wasatan? Begitulah sebaiknya orang tua menjadi seimbang, terutama dalam menjaga hati sekaligus mendisiplinkan anak, seperti contoh komentar-komentar ini:
- Sumayya, ingin sekali ibu membiarkan kamu tidur agak larut. Tapi besok sekolah dan ibu tak enak hati bila kamu kurang tidur.
- Ali, terlambat lagi untuk makan malam. Bagaimana kita selesaikan ini?

Beberapa saran untuk membuat perubahan menuju kondisi ideal:
1. jujur pada diri sendiri
Coba lihat komentar-komentar yang mencerminkan gaya kita, lalu pilih komentar yang mirip dengan komentar yang biasa/cenderung keluar dari mulut kita
2. membesarkan hati diri sendiri
3. membesarkan hati anak-anak
kelemahan (sikap yang kurang tepat pada anak) yang pernah kita buat bisa kita perbaiki untuk lebih menyampaikan ‘pesan’ dengan tepat
4. berbicara dengan yang lebih tahu di komunitas yang ada
5. buatlah keputusan
6. gunakan buku ini untuk memodifikasi dan memperbaiki gaya mendidik kita

Beberapa prinsip penting yang harus diperhatikan (disini ditulis 3 dari 7 saja)
1. Orang tua sebaiknya selalu memperlihatkan dengan jelas bahwa sumber yang dikatakan ortu dan apa yang mereka minta sebagai latihan adalah berasal dari Allah dan rasulNya. Ini membuat mereka merasakan interaksi mereka tak hanya dengan orang tua tapi juga dengan sesuatu yang lebih besar dari itu.

2. Membesarkan anak adalah peran yang paling luhur. Orang tua sebaiknya sangat menyadari kebenaran ini. Mempersiapkan generasi baru untuk tugas kemanusiaan seutuhnya di bumi ini. Bayi yang ada di pangkuan mereka adalah orang yang akan mengambil tanggung jawab dan membuat keputusan amat serius yang akan mempengaruhi SELURUH MUSLIM bahkan SELURUH KEMANUSIAAN.

3. Orang tua sebaiknya menyadari bahwa mereka tak hanya memberitahu anak-anaknya tentang BAIK-BURUK/SALAH-BENAR tapi juga menyediakan mereka alat untuk menilai kriteria tentang itu dalam segala kondisi. Ini artinya, meski orang tua tak bersama anak-anaknya, mereka akan tetap mampun memilah dan memilih serta memutuskan dengan bijak.

1.3 Jangan


*intermezzo*

Hari ini suami bilang, bahwa tarbiyah dalam bahasa arab, selain berarti pendidikan, bisa diterjemahkan sebagai pemeliharaan. Jadi jangan heran bila di tempat-tempat perternakan kita bisa menemukan papan bertuliskan ‘tarbiyah ayam’ hehe… Maaf, nih bahasa arabnya ayam ga ingat :D

***
Ada beberapa sikap yang harus dihindari oleh para pendidik, yaitu:
1. Perfeksionis
Maksudnya tentu saja, menuntut anak-anak untuk menjadi sempurna. Padahal, mereka masih punya banyak keterbatasan.

Contoh kasus:
Hoda memperlihatkan rapor sekolah pada ayahnya. Disana tertera tujuh buah A dan sebuah B.
Sang ayah berkomentar, “Wah ayah tahu kamu bisa melakukan yang lebih baik dari ini. Hoda, lain kali ayah ingin melihat semuanya A, ya.”
Lalu rapor itu diletakkan dan tak ada komentar lagi

Cerita lain:
Kakeknya Ali mengirimkan kartu lebaran, sehingga Ali membuat kartu ucapan terima kasih dengan menggunakan komputer ayahnya. Setelah selesai, ia memperlihatkan kartu itu pada ibunya.
“Wah, bagus. Tapi paragraf terakhirnya berantakan sekali. Coba buat lagi” kata ibunya.

Disini kita bisa melihat dua orang tua yang perfeksionis yang menjatuhkan rasa percaya diri/harga diri (self esteem) anaknya dengan cara tak pernah merasa puas pada apa yang dicapai anak-anak mereka. Arahan perbaikan memang diperlukan, tapi setelah kebutuhan self esteem anak terpenuhi. Penting sekali untuk menghargai usaha mereka.

Coba rasakan beda, seandainya ayah Hoda berbicara seperti ini:

“Ayah bangga sekali, nak…Masya Allah…tujuh buah A! Ayah yakin kamu juga senang seperti ayah, ya. Lihat, Allah selalu menghargai orang-orang yang bekerja keras dan berusaha untuk menyempurnakan apa yang mereka lakukan. Allah meridhai apa yang kamu lakukan dan kamu mendapat nilai-nilai yang baik. Selamat ya sayang…”

Lain waktu, barulah sang ayah mengajak Hoda diskusi tentang bagaimana meningkatkan nilai B satunya.

2. Over Proteksi
Ada anak bernama Ahmad, yang ingin belajar skating dengan teman-temannya. Tapi ayahnya melarang karena ia (ayahnya) waktu kecil pernah terluka saat mencobanya. Lalu ada Nuha yang diminta dua keluarga muslim untuk menjaga anak mereka. Tapi ibunya tidak setuju, dengan alasan tanggung jawab besar saat menjaga anak dan takut terjadi apa-apa.

Orang tua Ahmad dan Nuha sangat berusaha menjaga anak-anaknya, tapi mereka melewati batas antara melindungi dan mengecilkan hati (protection-discouragement). Padahal, luka di kaki bisa sembuh, tapi luka akibat dianggap tak bisa akan terasa dalam. Bukankah lebih baik diizinkan untuk mencoba sambil dibekali semangat dan perangkat-perangkat supaya bisa berhasil?

3. Mengejek/menghina
Seringkali, cap-cap terhadap anak mudah dikeluarkan orang tua atau lingkungannya. Si gendut, si gembul, si bawel, dll.

Atau penghinaan seperti yang dialami Fatimah. Ia anak kelas lima SD. Senang sekali menonton TV. Aturan di rumah, ia baru boleh menonton jika PR/tugasnya selesai. Suatu hari deadline PRnya bentrok dengan acara kesayangannya. Ia pun berbohong pada ibunya, bahwa esoknya tak ada tugas yang dikumpul sehingga ia diijinkan menonton. Ternyata keesokan harinya ibu gurunya bertanya tentang tugas itu pada ibunya. Tentu saja ibunya sangat marah. Saat Fatimah sedang bermain lompat tali bersama kawan-kawannya, ia berteriak marah, “Dasar kamu ini pembohong, ya!!!!” Rasanya Fatimah ingin masuk kedalam tanah…

Padahal di QS al Hujurat 49:11 Allah telah melarang orang-orang beriman untuk memanggil dengan panggilan yang buruk. Penting sekali untuk memanggil sesama dengan panggilan yang baik, yang disukainya. Tak terkecuali, anak-anak.

1.2 Periksa dulu

Di bab yang sama, setelah kita mencoba memaknai tujuan dan hakikat tarbiyah anak, maka sepatutnya kita mengawali langkah eksekusi kita, dengan menelisik lebih teliti. Pada apa?

Pada diri kita sendiri (orang tua/pendidik)

Saya jadi teringat bahwa seseorang tak kan bisa memberi bila dia tak bisa menerima. Maka untuk bisa memberi, menyuplai anak-anak, mencoba mengarahkan mereka, maka kita sendiri harus memiliki kemampuan untuk itu. Seumpama ingin membuat garis tentu kita memerlukan benda yang memiliki sifat seperti penggaris. Disini, kita perlu memiliki sifat penggaris.

Lalu bagaimana kalau kita tak seperti penggaris-padahal kita ingin sekali membuat garis???

Disinilah diperlukan sebuah proses yang disebut penulis buku ini proses SEARCHING (Search, Evaluate, Acknowledge, Reinforce, Change, and Hang on).

Bagaimana kita menelusuri kepribadian/prilaku kita. Melihat ke masa kecil dan remaja, bagaimana prilaku yang kita tangkap/terima dari orang tua kita. Mencari sumber gaya menjadi orang tua yang tersembunyi. Di buku tersedia contoh kuisioner sederhana untuk ini.

Setelah itu kita evaluasi, mana diantara aksi-prilaku kita yang positif, suportif dan berdasarkan pada nilai-nilai Islam dan pendidikan. Evaluasi juga sifat mana yang justru negatif. (kuesioner tentang ini juga ada di buku).

Mengakui kekuatan dan kelemahan, setelah melihat hasil evaluasi, adalah langkah pertama dalam memperbaiki sikap. Lalu tanamkan keyakinan kepada Allah dan komitmen untuk membuat perubahan yang positive.

Aneka karakter yang positif harus dijaga, diperkuat dan dipraktekan pada anak-anak, sementara karakter negatif harus diubah menjadi lebih positif. Tentunya ini bukan pekerjaan mudah dan butuh waktu. Tapi teruslah berusaha, jangan mudah menyerah.

Motivasi diri dengan banyak ayat dan hadits tentang keutamaan menjadi orang tua dengan anak shalih, anak shalih yang menjadi amal jariyah, keutamaan mendidik anak/mendidik anak perempuan, dll. (Misalnya QS Yasin:12)

Selain cara diatas, orang tua juga dapat mengkaji faktor-faktor apa yang menyebabkan prilaku negatif pada dirinya. Secara umum, beberapa faktor penyebab yang mungkin adalah:
- kurang pengalaman (sering terjadi untuk anak pertama)
- memakai metode warisan (padahal belum tentu sesuai untuk kondisi anaknya)
- mencontoh buta dari orang tua lain
- keinginan masa kecil yang belum terpenuhi
- tekanan sehari-hari (dari lingkungan) dan kurangnya kemampuan

*insya Allah, bersambung*
buat kaka, sabar ya, dikit2 nih ^_^

1.1 Pengantar

Aslinya ditulis untuk memenuhi janji pada lelaki yang baik hati dan tidak sombong, yang kadang merasa tuing-tuing membaca buku seperti ini, tapi enjoy menikmati tulisan arab yang keriting.

Meski bahasa Inggris saya sebenarnya masih sangat pas-pasan, tapi saya coba untuk menuliskan kembali. Saya muat disini, karena siapa tahu bisa bermanfaat untuk yang lain juga…

Judul : “Meeting the chalange of parenting in the west, an islamic perspective”
Penulis: Ekram Beshir, M.D. dan Mohamed Reda Beshir
Penerbit: Amana Publications
Tahun : 2001 (cetakan ke-3, cetakan pertama terbit 1998)

Tentang penulis
Mereka berdua adalah pasangan suami istri asal mesir, dengan 4 orang anak perempuan yang tinggal di kanada sejak taun 75. Ekram adalah seorang ibu yang juga dokter, sedangkan Reda adalah seorang ayah yang juga insinyur. Mereka berdua banyak berkecimpung dalam komunitas muslim di Ottawa. Mereka mendalami psikologi anak saat membesarkan keempat buah hati mereka itu.

Putri tertua mereka-saat buku itu ditulis-berusia 20 tahun. Sedang si bungsu 12 tahun. Waktu saya buka-buka web penerbitnya, saya menemukan buku yang ditulis oleh Sumayya Beshir, yang saya tahu merupakan nama si bungsu. Subhanallah yaa…

Ohya, pasangan ini menulis beberapa buku menarik (judulnya) tentang pernikahan dan juga parenting (jadi pengen bacaa…). Kata mbah google, sih di Kinokuniya Jepang juga tersedia buku-buku itu.

Tentang buku
Boleh dibilang buku ini cukup kaya dengan banyak hal. Pertama, mereka mengambil dasar dari al quran dan sunnah rasulullah saw sebagai base/landasan dalam tarbiyah anak-anak. Kedua, mereka juga banyak memberikan ilustrasi aplikatif dengan dasar-dasar psikologi anak yang sudah teruji. mereka menulis dengan bahasa yang mengalir dan tidak membuat kepala berkerut2

Contoh2 pengalaman dalam kehidupan sehari-hari juga dicatatkan disana, seperti bagaimana mengatasi masalah, dll. Ada juga beberapa kutipan komentar dari anak2 mereka, ttg keluarga mereka, masalah pendidikan anak, dll. Juga beberapa puisi karya anak2 mereka.

ada apa dengan parenting in the west?
Mereka memilih titik pokok persoalan yang spesifik, yaitu membesarkan anak2 muslim di tengah2 lingkungan/negara yang bukan muslim. Dimana kekuatan keluarga inti, menjadi sangat penting karena langkanya keluarga besar dan lingkungan yang mendukung tarbiyah/pendidikan anak-anak untuk benar-benar menjadi muslim sejati, menjadi DUTA BESAR ISLAM DI BARAT.

Namun, meski dikhususkan begitu, saya pikir masyarakat yang tinggal di negeri mayoritas muslim pun bisa mengambil banyak manfaat dari buku ini.

Pada bagian pertama, mereka memaparkan tujuan tarbiyah itu sendiri, yang sejalan dengan tujuan penciptaan jin dan manusia, yaitu untuk menjadi khalifah di bumi dan beribadah kepada Allah (QS 2:30, 51:56). Tujuan tarbiyah adalah membesarkan anak, dengan nilai dan makna untuk membantu mereka benar dan bahagia.

Benar meliputi semua nilai yang baik, yang tercakup dalam moral dan agama, terwujud dalam kehidupan yang seimbang dan moderat, terlihat secara positif dalam prilaku individu.

Bahagia-kebahagiaan yang hakiki, adalah hasil dari keimanan yang kuat dan pengetahuan akan tujuan penciptaan. Mengetahui kenyataan hidup dan nilai yang sebenarnya, dengan standar kehidupan akhirat. Sehingga kebahagian itu menjadi kebahagiaan yang abadi dalam dua kehidupan, dunia dan akhirat.

Untuk mewujudkan generasi yang besar dan bahagia, mereka tak cukup hanya menjadi kopian orang tuanya. Mereka harus memiliki kualitas lebih, yang menjadikan mereka sanggup bertahan, menjadi duta islam di barat.

Mereka haruslah memiliki kualitas seperti:
- strength in belief
mereka tak mudah mengubah keyakinan hanya untuk mengikuti lingkungan/orang kebanyakan
- pride in being a muslim
Tak takut menyembunyikan identitas sbg muslim, menjadi berbeda. Mereka justru bangga menyampaikan ttg islam dan menjadi contoh yang baik sbg seorang muslim
- capable and skillfull
Mampu dengan mudah mempelajari hal-hal yang baru, mendayagunakan informasi untuk mencapai yg terbaik dan hasil yg efisien
- motivated
- strong personality
- self confident
- progressive and self initiating

- solution-oriented
Tak berhenti bekerja hingga mencapai hasil yang diharapkan, masalah yang datang tdk menjadi ‘masalah pribadi’. Mereka yakin, halangan tak akan tidak terkontrol, dan mereka menjaga terus visi akhir di benaknya
- resolute
Mau mengambil resiko, menikmati tantangan, tak menyerah oleh halangan2
- persistent
semakin besar tantangan, semakin keras berusaha, sabar dan gigih untuk cemerlang dalam kerja/karya

*bersambung, insya Allah*

[Uhm.., melihat tujuan kualitas anak ini, saya jd berkaca pada diri sendiri, seberapa dalam saya memiliki kualitas2 itu. Apalagi saat banyak tantangan terbentang di depan mata…]






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M