Cerita Kelahiran (3)
Benar saja, segera setelah infus dipasang, rasa sakit mulai lebih sering menerpa. Perawat secara perlahan mulai menset aliran infus yang bertambah besar setelah sekian menit. Lama-lama sakitnya makin terasa kuat dan sering. Jarak antar kontraksi mulai merapat, kira-kira lima menit saja.
Beberapa kali HP berdering, entah itu telp, cmail ataupun e-mail. Tak bisa dijawab, karena aku hanya mampu menulis satu dua kata diantara jeda kontraksi. Akhirnya aku menyerah berurusan dengan HP. Merasa begitu sepi dalam kesakitan, akhirnya aku menekan tombol untuk memanggil perawat. Tak lama ia datang dan menanyakan masalahku.
Sakit dan sepi sendiri. Aku ingin ia disini. Tanpa banyak kata ia tersenyum dan mengangguk, lalu duduk di samping tempat tidur dan mengusap punggungku tanpa diminta. Lama ia melakukannya, hingga tugas lain memanggil.
Saat ia pergi, kupaksakan menelepon kaka. Berbisik dalam nada sedih,
“Kaka..kesini…ade sakit sekali…”
Tanpa menunggu jawab aku memutuskan hubungan telepon, karena tak enak menelepon di rumah sakit.
Selang beberapa waktu, lelaki itu muncul dengan wajah khawatir. Alhamdulillah, ia dapat ijin pulang rupanya sehingga bisa menemani.
Pukul enam, infusan dihentikan karena sudah waktunya makan. Entah alasan aliran atau kesulitan makan di tengah-tengah sakit. Tapi dokter memberitahu bahwa sisa-sisa pengaruhnya masih akan terasa (dan benar saja).

