Kabarnya, anak usia 3-4 tahun cenderung suka mendebat. Kata-kata
favoritnya adalah “kenapa”, “tapi”, atau “tidak” (dan sejenisnya, tentu).
Ini adalah fase normal, kata Ruth A. Peters seorang psikolog yang
menulis buku Laying Down the Law: The 25 Laws of Parenting. Prilaku
mendebat, dalam psikologi perkembangan anak termasuk prilaku
negativisme-fase normal yang umum terjadi pada anak mulai usia 18
bulan hingga 4 tahun. Prilaku ini muncul ketika anak menemukan
kekuatannya untuk menolak keinginan orang lain-meskipun itu sebenarnya
keinginan yang sebenarnya menyenangkan si anak.
Kuncinya adalah: jangan gusar, jangan terpancing emosi, dan santai
saja menghadapi anak seperti itu.
BD Schmitt MD, penulis buku Your Child’s Health mengatakan anak-anak
usia ini memang tampak seperti anak yang keras kepala. Mereka menjadi
sangat senang menolak nasihat dan perintah ortu atau orang dewasa lain.
Tapi pada dasarnya mereka tidak seperti itu, karena ini hanya bersifat
sementara.
Negativisme kemungkinan besar disebabkan oleh lingkungan. Tetangga,
saudara, ataupun televisi.
Hindari emosi, apalagi merasa tak dihormati saat si kecil melancarkan
“serangannya”. Kesabaran dan doa adalah senjata utama kita untuk
menghadapinya. Selain itu, Ruth juga menyusun beberapa kiat yang bisa
kita coba.
1. Responlah dengan tenang
Memberi batasan waktu dan kalimat “ayo tinggal pilih” bisa membawa
hasil pada anak. Anak-anak perlu merasakan adanya kontrol dan
konsekuensi atas tindakan mereka. Tentu saja konsekuensi itu harus
masuk akal. Anak-anak adalah sosok yang sangat mudah menerima konsekuensi.
2. Jangan beri hukuman karena berkata tidak dan biarkan ia menjadi
“penentu”
Hukumlah si kecil atas perbuatannya bukan atas apa yang dikatakannya.
Berdebat dengannya hanya karena ia berkata “tidak” akan melanggengkan
prilaku ini.
Respon yang lebih baik adalah dengan tindakan yang dapat mengembangkan
sense of freedom dan sense of controlnya sehingga ia menjadi lebih
kooperatif. Biarkan ia menentukan pilihannya sendiri, tapi kita yang
mengarahkan. Misalnya saja untuk memintanya mandi/makan, beri saja
pilihan: mau mandi dengan pancuran atau dengan bak mandi? Mau makan
nasi atau sereal? dsb.
Semakin cepat ia merasa sebagai penentu, semakin cepat waktu ini berlalu
3. Jangan beri pilihan jika tak ada pilihan
Ini dilakukan untuk hal-hal yang terkait dengan keselamatan/kesehatan.
Mintalah dengan lembut agar ia melakukan apa yang ingin kita minta.
Misalnya, “Dik, mama tahu kamu ingin main tapi sekarang sudah waktunya
tidur.”
Hindari perintah yang berbunyi: lakukan ini, lakukan yang lain.
4. Beri jeda
Sebaiknya kita tidak memutus aktivitas yang sedang dilakukannya dengan
memintanya melakukan sesuatu yang lain saat itu juga. Berilah sedikit
ia waktu untuk jeda/transisi. Misalnya 10 menit menjelang waktu makan
siang, beritahukanlah dia. Timer atau jam akan sangat membantu anak
untuk menerima perintah seperti itu. Tinggalkan aturan yang berlebihan
karena itu akan membuatnya enggan mengikuti aturan itu.
Hindari ekspektasi dan argumentasi yang tidak perlu
5. Hindari respon yang berlebihan
Sumber: Sabili No 14 Januari 06 by Dwi Hardianto
Susun ulang: Rieska Oktavia (17 Maret 06)