Lintasan Bunda
Lilypie Baby Ticker

March 17, 2006

Bulan kedua

15 Maret 2006
Sebelum mimi pagi (jelang shubuh) Ima memandang bunda sambil tersenyum. Nyess…dia menanggapi senyum bunda untuk pertama kalinya.

Setelah itu ia banyak tersenyum saat diajak bicara

16 Maret 2006
Mengoceh lebih banyak lagi. Lebih ribut dari biasanya.

Jika si kecil mendebat

Kabarnya, anak usia 3-4 tahun cenderung suka mendebat. Kata-kata
favoritnya adalah “kenapa”, “tapi”, atau “tidak” (dan sejenisnya, tentu).

Ini adalah fase normal, kata Ruth A. Peters seorang psikolog yang
menulis buku Laying Down the Law: The 25 Laws of Parenting. Prilaku
mendebat, dalam psikologi perkembangan anak termasuk prilaku
negativisme-fase normal yang umum terjadi pada anak mulai usia 18
bulan hingga 4 tahun. Prilaku ini muncul ketika anak menemukan
kekuatannya untuk menolak keinginan orang lain-meskipun itu sebenarnya
keinginan yang sebenarnya menyenangkan si anak.

Kuncinya adalah: jangan gusar, jangan terpancing emosi, dan santai
saja menghadapi anak seperti itu.

BD Schmitt MD, penulis buku Your Child’s Health mengatakan anak-anak
usia ini memang tampak seperti anak yang keras kepala. Mereka menjadi
sangat senang menolak nasihat dan perintah ortu atau orang dewasa lain.
Tapi pada dasarnya mereka tidak seperti itu, karena ini hanya bersifat
sementara.

Negativisme kemungkinan besar disebabkan oleh lingkungan. Tetangga,
saudara, ataupun televisi.

Hindari emosi, apalagi merasa tak dihormati saat si kecil melancarkan
“serangannya”. Kesabaran dan doa adalah senjata utama kita untuk
menghadapinya. Selain itu, Ruth juga menyusun beberapa kiat yang bisa
kita coba.

1. Responlah dengan tenang
Memberi batasan waktu dan kalimat “ayo tinggal pilih” bisa membawa
hasil pada anak. Anak-anak perlu merasakan adanya kontrol dan
konsekuensi atas tindakan mereka. Tentu saja konsekuensi itu harus
masuk akal. Anak-anak adalah sosok yang sangat mudah menerima konsekuensi.

2. Jangan beri hukuman karena berkata tidak dan biarkan ia menjadi
“penentu”
Hukumlah si kecil atas perbuatannya bukan atas apa yang dikatakannya.
Berdebat dengannya hanya karena ia berkata “tidak” akan melanggengkan
prilaku ini.

Respon yang lebih baik adalah dengan tindakan yang dapat mengembangkan
sense of freedom dan sense of controlnya sehingga ia menjadi lebih
kooperatif. Biarkan ia menentukan pilihannya sendiri, tapi kita yang
mengarahkan. Misalnya saja untuk memintanya mandi/makan, beri saja
pilihan: mau mandi dengan pancuran atau dengan bak mandi? Mau makan
nasi atau sereal? dsb.

Semakin cepat ia merasa sebagai penentu, semakin cepat waktu ini berlalu

3. Jangan beri pilihan jika tak ada pilihan
Ini dilakukan untuk hal-hal yang terkait dengan keselamatan/kesehatan.
Mintalah dengan lembut agar ia melakukan apa yang ingin kita minta.
Misalnya, “Dik, mama tahu kamu ingin main tapi sekarang sudah waktunya
tidur.”

Hindari perintah yang berbunyi: lakukan ini, lakukan yang lain.

4. Beri jeda
Sebaiknya kita tidak memutus aktivitas yang sedang dilakukannya dengan
memintanya melakukan sesuatu yang lain saat itu juga. Berilah sedikit
ia waktu untuk jeda/transisi. Misalnya 10 menit menjelang waktu makan
siang, beritahukanlah dia. Timer atau jam akan sangat membantu anak
untuk menerima perintah seperti itu. Tinggalkan aturan yang berlebihan
karena itu akan membuatnya enggan mengikuti aturan itu.

Hindari ekspektasi dan argumentasi yang tidak perlu

5. Hindari respon yang berlebihan

Sumber: Sabili No 14 Januari 06 by Dwi Hardianto
Susun ulang: Rieska Oktavia (17 Maret 06)

Proses belajar anak

Filed under: Lintasegala

Seorang anak dalam proses belajarnya ( learning prosess) bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor:

1. Faktor internal:
a. kemampuan kognisi: kemampuan kognisi walaupun bisa diasah , tapi kemampuan setiap anak berbeda. Ada anak yang memang terlahir genius dan hanya memerlukan usaha yang sedikit untuk membuat kognisi mereka cemerlang. Namun ada anak yang perlu diasah dengan lebih dan bahkan maksimal untuk membuat kognisis mereka lebih dapat cemerlang.
b. Temperament : setiap anak juga terlahir dengan bawaan sifat dan temperament yang berbeda beda.
c. Inner speech (kata hati). Biasnya anak memiliki inner speech yang tumbuh karena proses belajar dan obsevasi masa lampau.

2. Faktor lingkungan. Bisa jadi keluarga , lingkungan sekolah ,peers ( kawan kawan mereka) ataupun media.

Walaupun mungkin seorang ibu tidak pernah mengajarkan pada anaknya akan perbedaan perbedaan tapi seorang anak memiliki kemampuan untuk belajar melalui model, observasi dan kemudian di proses dalam pemikirannya sendiri yang memang secara kognisi dan emosi masih dalam tahap pertumbuhan, maka lahirlah apa yang disebut inner speech ( kata hati) . Anak dengan proses belajarnya tadi mengatakan bahwa antara dia dan anak anak lainnya ada perbedaan dan sudah semestinya si anak hanya memilih yang sama saja.

Hal ini sebetulnya wajar, setiap anak memiliki tendency seperti itu yaitu berkawan dengan seseorang atao kelompok yang sesuai. Seperti juga misalnya seorang anak perempuan lebih memilih bermain dengan anak perempuan berbanding anak lelaki dsbnya. Yang penting dan perlu ibu lakuakan pada anak ibu adalah memberikan pandangan pandangan yang bisa diterima mereka seperti anak muslim diperintahkan untuk berbuat baik pada setiap orang, tidak saja pada ibu, ayah dan adik beradik tetapi juga pada kawan, tetangga dll. Dan Allah sangat sayang pada anak anak yang suka berbuat baik dan berkawan pada semua orang.

**tulisan k yetti saat tanya jawab semilis ppa-fahima**

March 6, 2006

Cerita Kelahiran (3)

Benar saja, segera setelah infus dipasang, rasa sakit mulai lebih sering menerpa. Perawat secara perlahan mulai menset aliran infus yang bertambah besar setelah sekian menit. Lama-lama sakitnya makin terasa kuat dan sering. Jarak antar kontraksi mulai merapat, kira-kira lima menit saja.

Beberapa kali HP berdering, entah itu telp, cmail ataupun e-mail. Tak bisa dijawab, karena aku hanya mampu menulis satu dua kata diantara jeda kontraksi. Akhirnya aku menyerah berurusan dengan HP. Merasa begitu sepi dalam kesakitan, akhirnya aku menekan tombol untuk memanggil perawat. Tak lama ia datang dan menanyakan masalahku.

Sakit dan sepi sendiri. Aku ingin ia disini. Tanpa banyak kata ia tersenyum dan mengangguk, lalu duduk di samping tempat tidur dan mengusap punggungku tanpa diminta. Lama ia melakukannya, hingga tugas lain memanggil.

Saat ia pergi, kupaksakan menelepon kaka. Berbisik dalam nada sedih,

“Kaka..kesini…ade sakit sekali…”

Tanpa menunggu jawab aku memutuskan hubungan telepon, karena tak enak menelepon di rumah sakit.

Selang beberapa waktu, lelaki itu muncul dengan wajah khawatir. Alhamdulillah, ia dapat ijin pulang rupanya sehingga bisa menemani.

Pukul enam, infusan dihentikan karena sudah waktunya makan. Entah alasan aliran atau kesulitan makan di tengah-tengah sakit. Tapi dokter memberitahu bahwa sisa-sisa pengaruhnya masih akan terasa (dan benar saja).






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M