Hari-hari pertama
Ima-chan lahir divakum. Kepalanya sedikit terlihat benjol, baru akan membaik dalam beberapa waktu, insya Allah. Dokter anak mengatakan bahwa ia harus tinggal beberapa hari lebih lama di RS. Ia mengkhawatirkan cairan di kepala dan juga karena kulit/mata yang menguning.
Karena merasa lebih sehat, saya minta pulang lebih cepat sehari. Setelah saya diperiksanya dengan teliti, dokter mengijinkan. Tapi kapan bayi kami pulang, ia belum bisa memberi tahu. Dokter anaklah yang memberi keputusan, katanya.
Rabu-Jumat bolak balik ke rumah sakit untuk urusan ASI. Setidaknya dalam sehari bisa memeluk dan menyusuinya. Di rumah ASI diperas, dituang ke dalam plastik khusus untuk ASI, kemudian disimpan dalam freezer. Saat berkunjung, kantong-kantong itu diserahkan kepada perawat yang bertugas.
Alhamdulillah ASInya cukup banyak. Sekali peras, dalam 5-15 menit bisa 50-100 mL pernah juga lebih. Biar cepat dan mudah, digunakan pemeras elektrik yang diberikan mba Nesia sewaktu besuk. Niatnya untuk menabung ASI kalau sudah mulai masuk lab lagi. Ternyata sebelum itu pun alat itu sudah sangat berguna. Kalau menggunakan cara manual, 30mL dihasilkan dalam 20 menit. Alhamdulillah…
***
Bayi baru lahir senang sekali tidur dan juga begadang. Ia mulai terlihat ‘hidup’ lepas tengah malam. Kadang bisa bermain sendiri-ditinggal tidur-dan menangis saat ‘basah’ saja. Tapi ada waktu dimana inginnya dipeluk atau disusui. Saya masih mengamati, dan mencuri-curi waktu. Setengah malam -pagi, masih ada kaka yang bisa dititipi. Siang-setengah malam kami hanya berdua saja.
Dari rumah sakit, ada buku yang menuliskan jadwal bayi. Sepertinya agak merepotkan juga menulis tentang waktu-waktu bayi bak/bab dan juga menyusu setiap hari. Tapi dipikir lagi, mungkin bisa berguna untuk mengamati pola hidup dan catatan bila sewaktu-waktu ada yang harus dianalisis.
Ohya, bayi kuning dianjurkan untuk lebih banyak mendapat sinar matahari. Tidak menjemurnya langsung, tapi menidurkannya di dekat jendela yang masuk sinar matahari.
**ditulis saat Ima sedang terlelap disamping**
Dia lebih tenang dan lelap tertidur di kasur kami, dibandingkan bila diletakkan dikasurnya sendiri.

