Cerita Kelahiran [2]
Rabu, 25 Januari 2006
Wanita Jepang di sebelah itu sendirian. Dan ia tetap konsisten dengan pengaturan nafasnya. Subhanallah… Menjelang pukul tiga, perawat datang memeriksa detak jantung bayi. Alhamdulillah, adik kecil terdengar sehat. Perawat itu menyarankanku untuk rileks, dan tentu saja: tidur.
Ternyata aku bisa juga tertidur, meski sesaat sesaat. Lalu terdengar suara di ruang sebelah. Masih dengan pernafasan yang teratur, tapi dengan frekuensi yang lebih sering dan suara yang lebih keras. Tak lama, ia memanggil perawat. Entah apa saja yang terjadi disana selama beberapa waktu. Terakhir, dokter dan perawat datang memeriksa. Lalu ia pun diajak ke ruang berjalan ke ruang bersalin.
Lupa pukul berapa, aku pergi ke toilet yang terletak di depan ruang bersalin. Di sana ada beberapa perawat dengan seorang bayi yang masih merah. Subhanallah… wanita itu sudah melahirkan rupanya.
Menjelang shubuh, ruang sebelah dibersihkan kembali, dan penghuni sebelumnya pun kembali kesana.
Pagi itu, pukul enam pagi perawat datang lagi memeriksa suhu badan, frekuensi bak dan bab, dan tentu saja apakah ada kejadian penting saat malam. Ia juga mengambil darah saya untuk diperiksa. Frekuensi sakit masih lima menit sekali. Saya heran, jam 6 pagi ini artinya tepat 24 jam setelah ketuban pecah. Tapi belum ada tanda-tanda bahwa saya akan diinduksi.
Sarapan datang pukul 8. Saya makan dengan lahap, tentu saja berbagi dengan kaka. Begitupun dengan makan siang ataupun malam. Porsinya terlalu banyak untuk dihabiskan sendiri. Siangnya kaka pergi bekerja.
Ohya, seorang dokter datang memeriksa sekitar pukul 9 dan menjelang pukul 1 siang. Bukaan baru dua saja. Ugh, masih panjang sekali perjalanan. Saya memberanikan diri bertanya tentang induksi itu. Bukannya apa-apa, saya khawatir ada apa-apa dengan kondisi janin ini.
Dokter pun kemudian menyatakan bahwa akan segera dilakukan induksi. Saya tahu, induksi artinya sama dengan menjemput sakit. Tapi ini adalah pilihan yang semoga saja lebih baik. Segera, Nakajima-san, perawat yang bertugas hari itu-yang mendampingi dokter tersebut memasang infus induksi. Saya memilih tangan kiri karena merasa prihatin dengan tangan kanan yang sejak hari sebelumnya sudah ditusuk-tusuk jarum untuk diambil darah.
Alat untuk memonitor detak jantung janin dan kontraksi segera dipasang di perut.
Tak lama, rasa sakit mulai rutin mengunjungi dengan frekuensi dan intensitas yang lebih tinggi.

