Lintasan Bunda
Lilypie Baby Ticker

February 15, 2006

Cukuran-potong kuku

Kemarin, Selasa 14 Feb 2006, kepala bayi cantik kami menjadi gundul. Kaka mencukur habis rambut Ima chan yang tertidur nyenyak di pangkuanku. Acara cukuran yang terpotong-potong karena batere alat cukur yang dipinjam dari Mahad Hiroo-tempat kaka kerja-itu habis sehingga harus dicharge.

Besoknya, alias hari ini, kuberanikan diri untuk memotong kukunya. Pipinya sudah jadi korban cakaran kala tangan mungil itu alpa dipasangi sarungnya. Kuku bayi itu tipis dan lembut sekali yaa…

February 10, 2006

Masuk-keluar lagi

Pagi ini bayi cantik-Amaturrahman-memuntahkan kembali banyak sekali susu. Saya terkejut dan khawatir sekali. Sebenarnya kemarin juga sempat begitu, tapi sedikit saja. Saya takut dia sakit diam-diam, kerena muntahnya tak seperti gumoh yang saya lihat di bayi rekan yang lain. Tapi diluar itu dia baik-baik saja. Tidak rewel. Hanya terlihat gelisah dengan tenggorokannya, dan terlihat lebih nyaman bila dipeluk dengan posisi tidak berbaring.

Saya coba cari informasi, ternyata salah satu penyebab muntahnya adalah mimik sambil tidur. Hiks…kasihan sekali. Beberapa hari ini, adakalanya saya merasa sangat capek, misalnya saat malam/pagi harus memberinya ASI. Tak ada tenaga untuk mengangkatnya di pangkuan sehingga terpaksa sambil tiduran.

Uhm…alhamdulillah, setidaknya itu tak berbahaya…
Tapi saya harus memperkuat diri lebih baik lagi, nih…

February 6, 2006

Hari-hari pertama

Ima-chan lahir divakum. Kepalanya sedikit terlihat benjol, baru akan membaik dalam beberapa waktu, insya Allah. Dokter anak mengatakan bahwa ia harus tinggal beberapa hari lebih lama di RS. Ia mengkhawatirkan cairan di kepala dan juga karena kulit/mata yang menguning.

Karena merasa lebih sehat, saya minta pulang lebih cepat sehari. Setelah saya diperiksanya dengan teliti, dokter mengijinkan. Tapi kapan bayi kami pulang, ia belum bisa memberi tahu. Dokter anaklah yang memberi keputusan, katanya.

Rabu-Jumat bolak balik ke rumah sakit untuk urusan ASI. Setidaknya dalam sehari bisa memeluk dan menyusuinya. Di rumah ASI diperas, dituang ke dalam plastik khusus untuk ASI, kemudian disimpan dalam freezer. Saat berkunjung, kantong-kantong itu diserahkan kepada perawat yang bertugas.

Alhamdulillah ASInya cukup banyak. Sekali peras, dalam 5-15 menit bisa 50-100 mL pernah juga lebih. Biar cepat dan mudah, digunakan pemeras elektrik yang diberikan mba Nesia sewaktu besuk. Niatnya untuk menabung ASI kalau sudah mulai masuk lab lagi. Ternyata sebelum itu pun alat itu sudah sangat berguna. Kalau menggunakan cara manual, 30mL dihasilkan dalam 20 menit. Alhamdulillah…

***

Bayi baru lahir senang sekali tidur dan juga begadang. Ia mulai terlihat ‘hidup’ lepas tengah malam. Kadang bisa bermain sendiri-ditinggal tidur-dan menangis saat ‘basah’ saja. Tapi ada waktu dimana inginnya dipeluk atau disusui. Saya masih mengamati, dan mencuri-curi waktu. Setengah malam -pagi, masih ada kaka yang bisa dititipi. Siang-setengah malam kami hanya berdua saja.

Dari rumah sakit, ada buku yang menuliskan jadwal bayi. Sepertinya agak merepotkan juga menulis tentang waktu-waktu bayi bak/bab dan juga menyusu setiap hari. Tapi dipikir lagi, mungkin bisa berguna untuk mengamati pola hidup dan catatan bila sewaktu-waktu ada yang harus dianalisis.

Ohya, bayi kuning dianjurkan untuk lebih banyak mendapat sinar matahari. Tidak menjemurnya langsung, tapi menidurkannya di dekat jendela yang masuk sinar matahari.

**ditulis saat Ima sedang terlelap disamping**
Dia lebih tenang dan lelap tertidur di kasur kami, dibandingkan bila diletakkan dikasurnya sendiri.

February 2, 2006

Banyak ASI

Filed under: Lintasegala, Lintasaran

Saran dari mba Nesia (ibu tiga anak) melalui e-mailnya:

Rieska, salah satu kunci utama agar asi bisa banyak, yang sering dilupakan para ibu menyusui : banyak minum air putih. Usahakan minum satu gelas sebelum dan sesudah mengeluarkan asi.

Kalau saya, biasanya minum dua gelas sebelum dan sesudah. Untuk di Jepang, kadang kita malas ya karena rebahannya di futon, malas bangun berdiri dan ambil air minum. Jahitannya itu loh… ^ - ^ Nah, untuk itu, mesti diakali. Sedia botol minum besar yang ada pipetnya, taruh beberapa di dekat tempat tidur (futon). Gak papa minum sambil baring, daripada tidak. Atau kalau bisa ya duduk dululah :D .

Selain itu, agar cepat pulih, makan sayur banyak, telur, madu, susu, buah… Sayur, kalo gak sempat masak, cukup yang rebusan saja tanpa rasa (orang Sunda udah biasa kan yah), seperti hourenzo, wortel… Juga telur rebus, tiap hari dua butir, pagi dan malam…

Hati-hati juga jangan banyak makan manis-manis seperti cokelat, biskuit, juz buah…, bisa bengkak payudaranya, asinya menggumpal, dan ujung-ujungnya si ibu jadi meriang.

Gambatte, ingat gak ada obat buat akachan yang baru lahir sampai 3 bulan, selain asi… Jadi kalaupun sampai sakit (semoga tidak), pengobatannya hanya tergantung ibunya. Sangat rentan buat akachan baru lahir dikasih obat-obat yang tidak alami.

Kalau rieska atau suami kaze, gambatte selalu pakai masker. Baiknya teman-teman yang mau
membesuk juga mestinya tahu diri kalau lagi kaze…, gak datang dulu… Untuk mencegah penularan.

Sedikit pengalaman, dulu waktu baru lahirin Fatimah, saya kena kaze, batuk… Aduh masya Allah, sakit sekali rahim karena batuk itu… Semoga Rieska dan akachan selalu sehat.

February 1, 2006

Cerita Kelahiran [2]

Rabu, 25 Januari 2006

Wanita Jepang di sebelah itu sendirian. Dan ia tetap konsisten dengan pengaturan nafasnya. Subhanallah… Menjelang pukul tiga, perawat datang memeriksa detak jantung bayi. Alhamdulillah, adik kecil terdengar sehat. Perawat itu menyarankanku untuk rileks, dan tentu saja: tidur.

Ternyata aku bisa juga tertidur, meski sesaat sesaat. Lalu terdengar suara di ruang sebelah. Masih dengan pernafasan yang teratur, tapi dengan frekuensi yang lebih sering dan suara yang lebih keras. Tak lama, ia memanggil perawat. Entah apa saja yang terjadi disana selama beberapa waktu. Terakhir, dokter dan perawat datang memeriksa. Lalu ia pun diajak ke ruang berjalan ke ruang bersalin.

Lupa pukul berapa, aku pergi ke toilet yang terletak di depan ruang bersalin. Di sana ada beberapa perawat dengan seorang bayi yang masih merah. Subhanallah… wanita itu sudah melahirkan rupanya.

Menjelang shubuh, ruang sebelah dibersihkan kembali, dan penghuni sebelumnya pun kembali kesana.

Pagi itu, pukul enam pagi perawat datang lagi memeriksa suhu badan, frekuensi bak dan bab, dan tentu saja apakah ada kejadian penting saat malam. Ia juga mengambil darah saya untuk diperiksa. Frekuensi sakit masih lima menit sekali. Saya heran, jam 6 pagi ini artinya tepat 24 jam setelah ketuban pecah. Tapi belum ada tanda-tanda bahwa saya akan diinduksi.

Sarapan datang pukul 8. Saya makan dengan lahap, tentu saja berbagi dengan kaka. Begitupun dengan makan siang ataupun malam. Porsinya terlalu banyak untuk dihabiskan sendiri. Siangnya kaka pergi bekerja.

Ohya, seorang dokter datang memeriksa sekitar pukul 9 dan menjelang pukul 1 siang. Bukaan baru dua saja. Ugh, masih panjang sekali perjalanan. Saya memberanikan diri bertanya tentang induksi itu. Bukannya apa-apa, saya khawatir ada apa-apa dengan kondisi janin ini.

Dokter pun kemudian menyatakan bahwa akan segera dilakukan induksi. Saya tahu, induksi artinya sama dengan menjemput sakit. Tapi ini adalah pilihan yang semoga saja lebih baik. Segera, Nakajima-san, perawat yang bertugas hari itu-yang mendampingi dokter tersebut memasang infus induksi. Saya memilih tangan kiri karena merasa prihatin dengan tangan kanan yang sejak hari sebelumnya sudah ditusuk-tusuk jarum untuk diambil darah.

Alat untuk memonitor detak jantung janin dan kontraksi segera dipasang di perut.

Tak lama, rasa sakit mulai rutin mengunjungi dengan frekuensi dan intensitas yang lebih tinggi.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M