Selasa, 24 Januari 2006
Alarm HP berbunyi pada pukul empat pagi- satu setengah jam menjelang shubuh. Tapi dinginnya udara musim dingin membuat diri ini tak beranjak dari selimut. Baru pada bunyi kesekian kalinya kaka (suami) bergerak mengambil wudhu. Biasanya sebentar kemudian aku segera menyusul. Tapi tiba-tiba saja perut ini mengeras, mulas. Sepuluh menit menjelang shubuh baru ia mereda. Ternyata setelah diperiksa, terlihat ada tanda pertama persalinan: lendir campur darah.
Uhm…sudah dekat rupanya. Segera saja aku berganti kostum. Mungkin dalam satu dua jam menelepon RS dan pergi. Tunggu dulu, keluar lendir campur darah dalam bahasa Jepang apa ya? Jariku segera menekan keetai, mengirim cmail ke Nilam dan Dhita, yang biasa ditanya-tanya untuk urusan bahasa Jepang.
“Ci ga aru ekitai…” balas Dhita tak lama kemudian.
Pukul enam, ada yang merembes, basah. Hari masih agak gelap. Rasanya terlalu pagi untuk menelepon, apalagi pergi ke rumah sakit. Lebih baik jemur cucian dulu, sementara kaka mencuci piring, disambi menyiapkan sarapan. Menu pagi ini spageti.
Setengah tujuh menelepon, diminta datang ke RS dan membawa tas perlengkapan menginap di RS (nyuin) yang memang harus disiapkan sejak tiga pekan sebelumnya. Kaka segera kuajak bersiap. Spageti buatannya yang harum- baru saja jadi-menjadi bento untuk dimakan disana. Hey, perutku rasanya baik-baik saja. Katanya kalau mau ke RS sudah tak bisa senyum, tapi aku masih senyum-senyum dan menggoda kaka yang sedikit terlihat tegang.
Kereta jalur den entoshi sepagi ini terlalu padat, jadi kami akan pergi menggunakan taksi saja. Menyetopnya di jalan raya, seperti saat kontraksi dua pekan lalu. Di jalan raya, taksi tak muncul-muncul. Sekali dua kali lewat terisi. Harus ke eki (stasiun), rupanya. Kami pun berjalan kesana, bersama orang-orang yang bergegas pergi kerja. Lima belas menit setelah mendudukkan diri dalam taksi, RS sudah di depan mata. Kami menunggu panggilan. Setelah itu seorang perawat mengantar kami ke atas. Area sanfujinka ada di lantai 5 Takatsu Chuo byouin, rumah sakit yang menjadi tempat memeriksakan kandungan selama ini.
Dokter segera memeriksa. Uhm, ketubannya sudah pecah, tapi belum ada pembukaan. Lebih baik tidak pulang, menginap di rumah sakit saja.
Aku ditempatkan di ruang kontraksi yang terdiri dari dua ruangan yang terpisah tirai. Seorang calon ibu, wanita Jepang sudah lebih dulu menempati ruang satunya. Karena lapar, setelah membereskan bawaan segera kami sarapan pagi.
Rasa sakit mulas dan kontraksi mulai rajin mengunjungi sekitar sepuluh menit sekali. Aku masih bisa menelepon, membalas dan mengirimkan cmail. Tak lupa meminta doa dari semua. Aku yakin, dalam kondisi seperti ini bantuan doa dari banyak orang akan sangat diperlukan. Tentu saja aku mengabarkan dan meminta doa mamah di Indonesia. Ia menelepon balik beberapa detik, sambil menangis. Papap yang masih ada di Mekah juga diberitahu, katanya. Mataku membasah, dadaku menghangat. Napak tilas perjuangan ibu akan dimulai…
Menjelang siang kontraksi menjadi lebih sering. Sekitar lima menitan. Waktu untuk tersenyum semakin sedikit.
Sekitar pukul satu dokter datang memeriksa. Kudengar bukaannya sudah 5 alhamdulillah, bentar lagi. Ternyata aku salah dengar, karena pukul tiga dokter lain meminta kami menemuinya dan dia berkata bukaannya baru 0.5. Masya Allah jauh sekali…
Ia juga menerangkan tentang beberapa hal:
1. foto rongent tulang pinggul tak ada masalah. Diameter kepala bayi sekitar 9 cm, sementara diameter jalan lahir antara 12-13 cm. alhamdulillah
2. jalan induksi harus diambil kalau dalam 24 jam setelah ketuban pecah pembukaan belum juga sempurna
3. jalan operasi (cesar) akan diambil kalau terjadi:
- ketuban terkotori oleh mekonium (kotoran bayi)
- infeksi pada ibu yang ditandai dengan meningkatnya konsentrasi darah putih atau ibu demam (lebih dari 38 derajat celcius)
Jantungku mulai berdebar. Semoga saja tak terjadi yang buruk. Hari selasa itu pun dilewati dengan kontraksi perlima menit yang menghebat di malam hari. Pukul delapan lebih, kaka sempat pamit pulang, karena batasan jam kunjung. Tapi kira-kira dua jam kemudian ia datang kembali. Ia membawa air rebusan kacang hijau yang disarankan mbak Nesia agar diminum untuk menambah kekuatan saat persalinan. Katanya ia berjumpa pak Ismail yang sempat menemani istrinya (Mbak Levi) di RS. Beliau memberi tahu bahwa suami diperbolehkan menemani (menginap) di ruang kontraksi/sebelum persalinan. Wah, pantas ada sofa, pikirku.
Kaka tertidur pulas di sofa. Sementara aku sulit memejamkan mata, karena ada sakit yang acapkali datang. Jelang tengah malam, seorang perawat masuk ke ruang sebelah. Ia meminta wanita itu untuk pindah ke kamar lain. Ada pasien lain yang datang dengan kontraksi yang lebih kuat. Ia pun dipindahkan dan digantikan seseorang lain. Seseorang tanpa teriakan apalagi keluhan. Aku hanya samar-samar mendengarnya mengambil nafas saat kontraksi terjadi.